Memilih reksadana campuran tidak cukup hanya melihat produk dengan return tertinggi. Banyak investor pemula terjebak pada angka imbal hasil tanpa memahami risiko di baliknya. Padahal, setiap produk punya karakter yang berbeda. Ada yang agresif, ada juga yang lebih stabil.
Selain itu, kinerja masa lalu juga tidak selalu menjamin hasil di masa depan. Kamu perlu melihat konsistensi return, komposisi aset, dan strategi manajer investasi. Hal ini penting supaya kamu tidak salah pilih produk.
Reksadana campuran sendiri cukup populer karena dianggap “jalan tengah”. Risiko tidak setinggi saham, tapi potensi return masih lebih menarik dibanding pasar uang. Namun, tetap ada risiko yang perlu kamu pahami.
Di artikel ini, kamu akan belajar cara kerja, potensi keuntungan, risiko, hingga contoh reksadana campuran terbaik berdasarkan data. Jadi, kamu bisa ambil keputusan dengan lebih rasional, bukan sekadar ikut tren.
Mengenal Apa Itu Reksadana Campuran

Reksadana campuran adalah produk investasi yang menggabungkan beberapa jenis aset dalam satu portofolio. Biasanya terdiri dari saham, obligasi, dan pasar uang.
Komposisinya fleksibel. Tidak seperti reksadana saham atau pendapatan tetap, alokasi aset bisa berubah sesuai strategi manajer investasi.
Cara Kerja Reksadana Campuran
Komposisi Portofolio yang Fleksibel
Dalam reksadana campuran, dana kamu akan dibagi ke beberapa instrumen. Misalnya 50% saham, 30% obligasi, dan 20% pasar uang. Komposisi ini bisa berubah tergantung kondisi pasar.
Peran Manajer Investasi
Manajer investasi bertugas mengatur strategi. Mereka akan menentukan kapan harus masuk saham atau pindah ke obligasi. Tujuannya untuk memaksimalkan return sekaligus mengelola risiko.
Potensi Keuntungan Reksadana Campuran
Return reksadana campuran umumnya berada di tengah. Tidak setinggi saham, tapi lebih tinggi dari pasar uang. Rata-rata return bisa berkisar di angka 6%–12% per tahun. Namun, angka ini tidak pasti tergantung kondisi pasar dan strategi pengelolaan.
Apakah Reksadana Campuran Bisa Rugi?

Jawabannya: bisa. Beberapa faktor yang menyebabkan kerugian antara lain:
- Pasar saham turun → nilai portofolio ikut terkoreksi
- Harga obligasi turun → dipengaruhi suku bunga
- Kondisi ekonomi tidak stabil → memicu volatilitas
- Strategi alokasi kurang tepat → keputusan manajer investasi berpengaruh besar
Contohnya, saat pasar saham anjlok, produk dengan porsi saham tinggi bisa mengalami penurunan nilai cukup dalam.
Contoh Reksadana Campuran
| Produk | Return 1Y | Return 3Y | Risiko | Karakter | Keterangan |
|---|---|---|---|---|---|
| Sucorinvest Citra Dana Berimbang | 22,86% | 6,04% | Sedang | Agresif | Equity 73,18%, obligasi & sukuk 15,38%, money market 11,44% |
| Simas Satu | 19,40% | 5,36% | Sedang | Agresif | Equity 69,50%, money market & kas 30,50% |
| Jarvis Balanced Fund | 16,54% | 2,98% | Sedang | Moderat | Equity 50,9%, money market 42,47%, bonds 1,83% |
| Schroder Syariah Balanced Fund | 5,07% | 3,38% | Sedang | Moderat | Sukuk 46,18%, saham syariah 41,92%, money market 11,90% |
| Mandiri Investa Syariah Berimbang Kelas A | 3,27% | 5,09% | Sedang | Konservatif-Moderate | Sukuk 55,47%, saham syariah 35,09%, deposito 8,47% |
Sumber data: Reksadana Campuran Aplikasi Bibit (per tanggal 11 Agustus 2026).
Reksadana Campuran dengan Kinerja Terbaik

Return 1 Tahun Tertinggi
Produk dengan return tertinggi dalam 1 tahun adalah Sucorinvest Citra Dana Berimbang (22,86%), disusul oleh Simas Satu (19,40%). Kedua produk ini memiliki karakter agresif karena porsi sahamnya cukup besar, yaitu di atas 65%. Saat pasar saham sedang naik, performanya bisa meningkat signifikan.
Namun, ketika pasar mengalami koreksi, nilai investasinya juga cenderung lebih fluktuatif. Artinya, produk dengan return tinggi ini lebih cocok untuk kamu yang siap menghadapi risiko lebih besar demi peluang keuntungan yang lebih tinggi.
Return 3 Tahun Tertinggi
Untuk periode 3 tahun, Sucorinvest Citra Dana Berimbang (6,04%) masih menjadi yang tertinggi, diikuti oleh Simas Satu (5,36%) dan Mandiri Investa Syariah Berimbang (5,09%).
Dari data ini terlihat bahwa dalam jangka menengah, performa tidak hanya ditentukan oleh agresivitas, tetapi juga oleh konsistensi pengelolaan. Produk berbasis syariah seperti Mandiri Investa mulai menunjukkan kestabilan meskipun tidak seagresif produk dengan porsi saham tinggi.
Hal ini menunjukkan bahwa return jangka menengah lebih mencerminkan konsistensi dibanding sekadar lonjakan keuntungan.
Kinerja Paling Stabil (Konsisten)
Jika dilihat dari keseimbangan antara return 1 tahun dan 3 tahun, terdapat dua produk yang cukup menonjol dalam hal stabilitas, yaitu Mandiri Investa Syariah Berimbang Kelas A dan Schroder Syariah Balanced Fund.
Keduanya memiliki fluktuasi yang lebih terjaga karena didominasi oleh instrumen sukuk. Dengan komposisi tersebut, produk ini cenderung lebih tahan terhadap gejolak pasar saham.
Oleh karena itu, kedua reksadana tersebut cocok untuk kamu yang menginginkan investasi yang lebih stabil dan tidak terlalu volatil.
Insight Penting
Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa produk dengan karakter agresif cenderung unggul dalam jangka pendek, terutama saat pasar sedang bullish.
Sementara itu, produk dengan karakter moderat hingga konservatif justru lebih stabil dalam jangka menengah. Hal penting yang perlu kamu pahami adalah bahwa return tinggi tidak selalu berarti produk tersebut paling baik untuk semua investor.
Jadi, komposisi aset menjadi faktor utama yang menentukan karakter dan performa reksadana campuran.
Siapa yang Cocok Investasi Reksadana Campuran?

Reksadana campuran cocok untuk kamu yang ingin mendapatkan potensi keuntungan lebih tinggi dibanding deposito, tapi belum siap menghadapi risiko besar seperti di reksadana saham.
Produk ini juga pas untuk investor dengan profil risiko moderat yang mencari keseimbangan antara return dan risiko. Kalau kamu masih pemula, reksadana campuran bisa jadi pilihan awal yang cukup aman untuk belajar investasi.
Selain itu, produk ini juga cocok buat kamu yang ingin diversifikasi tanpa harus repot mengatur portofolio sendiri. Untuk tujuan keuangan jangka menengah, sekitar 3–5 tahun, reksadana campuran juga bisa jadi opsi yang relevan.
Tips Memilih Reksadana Campuran
Sebelum kamu memutuskan memilih produk, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan. Pertama, cek dulu kinerja historisnya, idealnya dalam periode minimal tiga tahun agar terlihat konsistensinya. Jangan hanya fokus pada return tinggi dalam waktu singkat.
Selanjutnya, pahami komposisi asetnya, apakah lebih banyak di saham, obligasi, atau pasar uang. Hal ini akan memengaruhi tingkat risiko produk tersebut. Kamu juga perlu memperhatikan biaya pengelolaan karena bisa berdampak pada hasil investasi.
Terakhir, pastikan memilih produk dari manajer investasi yang punya reputasi baik dan track record yang jelas. Intinya, jangan mudah tergiur angka return tinggi. Pilihlah produk yang benar-benar sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan kamu.
Penutup
Reksadana campuran bisa jadi pilihan menarik buat kamu yang ingin investasi dengan risiko moderat. Produk ini menawarkan keseimbangan antara potensi keuntungan dan risiko. Namun, bukan berarti bebas risiko.
Kamu tetap perlu memahami cara kerja dan faktor yang memengaruhi kinerjanya. Dengan begitu, kamu bisa memilih produk yang sesuai tujuan finansial.
Jangan terburu-buru. Bandingkan beberapa produk sebelum memutuskan. Fokus pada konsistensi, bukan hanya return tinggi.
Kalau kamu ingin alternatif yang lebih stabil, kamu juga bisa mempertimbangkan instrumen lain seperti deposito. Cek pilihan produk investasi lainnya di deposito.co.id.
Sindy Rosa D. adalah seorang yang punya minat besar di bidang keuangan. Ia tertarik pada cara investasi, mengatur keuangan, dan tips cerdas mengelola uang.
Artikel ini hanya untuk tujuan edukasi dan informasi umum. Bukan merupakan nasihat keuangan, investasi, atau rekomendasi produk tertentu. Keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca. Konsultasikan dengan ahli keuangan berlisensi sebelum mengambil keputusan investasi. Data dan informasi dapat berubah sewaktu-waktu.







