Menghitung keuntungan reksadana sebenarnya nggak sesulit yang kamu bayangkan. Banyak investor pemula sering bingung saat melihat angka naik turun di aplikasi investasi. Padahal, semua perubahan itu berasal dari pergerakan nilai harian reksadana.
Kalau kamu paham cara kerjanya, kamu bisa membaca performa investasi dengan lebih percaya diri. Selain itu, kamu juga jadi lebih mudah menentukan apakah strategi yang kamu pakai sudah tepat atau belum.
Memahami cara menghitung return juga penting supaya kamu nggak salah mengambil keputusan. Nah, di artikel ini kamu bakal belajar cara menghitung keuntungan reksadana dengan simpel lengkap dengan contoh nyata.
Pahami NAB dan Unit Penyertaan

Sebelum masuk ke perhitungan, kamu wajib kenal dua istilah penting ini:
- NAB (Nilai Aktiva Bersih) per Unit adalah harga satu unit reksadana. Nilainya bisa naik atau turun setiap hari tergantung kondisi pasar.
- Unit Penyertaan (UP) adalah jumlah unit yang kamu miliki dari hasil investasi. Semakin banyak unit, semakin besar potensi keuntungan.
Contohnya, kalau kamu invest Rp1 juta di NAB Rp1.000, kamu akan dapat 1.000 unit. Nilai investasimu akan berubah mengikuti NAB.
Cara Menghitung Keuntungan Reksadana

Rumus Dasar
Sebenarnya, cara menghitung keuntungan reksadana itu cukup simpel. Kamu hanya perlu memahami dua komponen utama, yaitu perubahan NAB dan jumlah unit yang kamu miliki.
Berikut rumus yang bisa kamu gunakan:
Keuntungan (Rp)
(NAB Akhir – NAB Awal) × Jumlah Unit Penyertaan
Rumus ini dipakai untuk mengetahui berapa keuntungan yang kamu dapat dalam bentuk rupiah.
Return (%)
((NAB Akhir – NAB Awal) ÷ NAB Awal) × 100%
Kalau yang ini digunakan untuk melihat persentase keuntungan. Biasanya, angka ini lebih sering dipakai untuk membandingkan performa investasi.
Contoh Lump Sum (Sekali Invest)
Supaya lebih mudah dipahami, kita pakai contoh sederhana.
Misalnya kamu melakukan investasi sekali (lump sum) sebesar Rp10.000.000 saat harga NAB per unit berada di Rp1.000. Dari pembelian tersebut, kamu akan mendapatkan:
Rp10.000.000 ÷ Rp1.000 = 10.000 unit penyertaan
Artinya, kamu sekarang punya 10.000 unit reksadana.
Setelah satu tahun, ternyata performa reksadana cukup bagus dan NAB naik menjadi Rp1.060 per unit.
Sekarang kita hitung hasil investasimu:
- Nilai investasi saat ini:
10.000 unit × Rp1.060 = Rp10.600.000 - Keuntungan yang didapat:
Rp10.600.000 – Rp10.000.000 = Rp600.000 - Return (persentase):
((1.060 – 1.000) ÷ 1.000) × 100% = 6%
Dari contoh ini, kamu bisa melihat bahwa keuntungan reksadana berasal dari kenaikan nilai NAB, bukan dari bunga tetap seperti tabungan atau deposito.
Jadi, semakin tinggi kenaikan NAB, semakin besar juga potensi keuntungan yang bisa kamu dapatkan. Sebaliknya, kalau NAB turun, nilai investasimu juga bisa ikut turun. Itulah kenapa penting untuk selalu memantau performa reksadana secara berkala.
Simulasi Investasi Rutin (DCA)

Kalau kamu investasi tiap bulan, perhitungannya sedikit berbeda. Kamu harus menjumlahkan semua unit yang kamu beli di harga berbeda.
Contoh 3 Bulan
- Bulan 1: Rp1 juta di NAB Rp1.000 → 1.000 unit
- Bulan 2: Rp1 juta di NAB Rp1.050 → 952,38 unit
- Bulan 3: Rp1 juta di NAB Rp1.020 → 980,39 unit
Total unit: 2.932,77
Total modal: Rp3 juta
Kalau NAB naik ke Rp1.100:
- Nilai akhir: Rp3.226.047
- Keuntungan: Rp226.047
Metode ini disebut Dollar Cost Averaging (DCA) dan sangat cocok buat kamu yang ingin investasi rutin dan lebih stabil.
Perbedaan Return Tiap Jenis Reksadana

Walaupun cara menghitung keuntungan reksadana itu sama, hasil akhirnya bisa berbeda tergantung jenis produk yang kamu pilih. Setiap jenis reksadana punya karakteristik, tingkat risiko, dan potensi return yang berbeda.
Reksadana Pasar Uang
Jenis ini biasanya paling stabil karena dananya ditempatkan di instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi jangka pendek.
Pergerakan NAB cenderung naik perlahan dan jarang mengalami penurunan tajam. Untuk return, umumnya berada di kisaran 4% hingga 6% per tahun. Cocok buat kamu yang baru mulai investasi atau ingin risiko rendah.
Reksadana Pendapatan Tetap
Berbeda dengan pasar uang, reksadana ini banyak berinvestasi di obligasi jangka menengah hingga panjang. Karena itu, nilainya bisa naik turun mengikuti kondisi pasar, terutama perubahan suku bunga. Walaupun lebih fluktuatif, potensi keuntungannya juga lebih tinggi, biasanya sekitar 6% hingga 8% per tahun.
Intinya, semakin tinggi potensi return yang ditawarkan, biasanya semakin besar juga risiko yang harus kamu hadapi. Jadi, penting banget menyesuaikan pilihan reksadana dengan profil risiko kamu.
Kesalahan Umum Saat Menghitung Return

Supaya kamu nggak salah memahami hasil investasi, ada beberapa kesalahan umum yang sering dilakukan pemula. Coba hindari hal-hal berikut ini:
1. Menganggap Reksadana Seperti Tabungan
Banyak yang masih berpikir reksadana itu seperti tabungan dengan bunga tetap. Padahal, nilai reksadana bisa naik dan turun setiap hari tergantung kondisi pasar.
2. Tidak Memperhatikan Waktu Investasi
Kalau kamu investasi secara bertahap, harga NAB yang kamu dapat pasti berbeda-beda. Ini akan mempengaruhi rata-rata harga beli dan hasil akhir investasi kamu.
3. Mengabaikan Biaya Transaksi
Beberapa reksadana mengenakan biaya pembelian atau penjualan. Kalau tidak diperhitungkan, hasil return yang kamu hitung bisa jadi tidak akurat.
4. Hanya Fokus pada Keuntungan Nominal
Melihat keuntungan dalam rupiah memang penting, tapi jangan lupa cek juga persentasenya. Return (%) lebih relevan untuk menilai seberapa efektif investasi kamu berkembang.
Dengan memahami hal-hal ini, kamu bisa membaca performa reksadana dengan lebih objektif dan nggak mudah salah ambil keputusan.
Penutup
Sekarang kamu sudah tahu kalau cara menghitung keuntungan reksadana itu sebenarnya cukup sederhana. Kamu hanya perlu memahami NAB dan jumlah unit yang dimiliki. Dengan dua hal itu, kamu sudah bisa menghitung return dengan akurat.
Selain itu, kamu juga jadi lebih paham bagaimana investasi kamu berkembang dari waktu ke waktu. Ini penting supaya kamu bisa evaluasi strategi yang digunakan. Jangan hanya melihat angka naik atau turun tanpa memahami penyebabnya.
Investasi yang baik bukan soal cepat untung, tapi soal konsistensi dan pemahaman. Dengan perhitungan yang tepat, kamu bisa mengambil keputusan yang lebih bijak.
Kalau kamu ingin alternatif investasi yang lebih stabil dengan risiko rendah, kamu juga bisa mempertimbangkan produk deposito melalui deposito.co.id. Platform ini memudahkan kamu membandingkan berbagai pilihan deposito dari banyak bank dalam satu tempat.
Yuk, mulai investasi dengan strategi yang lebih terarah dan sesuai tujuan finansial kamu!(***)
Sindy Rosa D. adalah seorang yang punya minat besar di bidang keuangan. Ia tertarik pada cara investasi, mengatur keuangan, dan tips cerdas mengelola uang.
Artikel ini hanya untuk tujuan edukasi dan informasi umum. Bukan merupakan nasihat keuangan, investasi, atau rekomendasi produk tertentu. Keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca. Konsultasikan dengan ahli keuangan berlisensi sebelum mengambil keputusan investasi. Data dan informasi dapat berubah sewaktu-waktu.







