Bank menawarkan bunga deposito 5 persen per tahun, lalu kamu langsung membayangkan uang Rp50 juta akan bertambah Rp2,5 juta. Tapi begitu jatuh tempo, kok yang masuk ke rekening nggak sebesar itu?
Situasi seperti ini sering bikin kaget, apalagi buat kamu yang baru pertama kali mencoba deposito.
Angka bunga yang ditawarkan bank adalah bunga kotor, sementara yang benar-benar kamu terima sudah dipotong pajak. Belum lagi ada pengaruh inflasi yang diam-diam menggerus nilai uangmu.
Di artikel ini kita bahas cara menghitung suku bunga deposito dengan benar, mulai dari rumus dasarnya, simulasi bunga kotor dan bersih, efek bunga berbunga lewat ARO, sampai faktor yang memengaruhi besar kecilnya bunga.
Mengapa Mengetahui Cara Menghitung Suku Bunga Deposito Itu Penting?

Menaruh uang di deposito memang terasa aman dan praktis. Tapi tanpa tahu cara menghitung bunganya, kamu bisa punya ekspektasi yang terlalu tinggi lalu kecewa saat jatuh tempo.
Dengan memahami hitungannya, kamu bisa tahu berapa imbal hasil bersih yang benar-benar masuk ke kantong.
Beberapa manfaat yang bisa kamu dapat antara lain:
- Perencanaan keuangan jadi lebih matang karena kamu tahu angka pasti yang akan diterima
- Lebih mudah membandingkan tawaran deposito dari berbagai bank secara objektif
- Terhindar dari trik marketing yang hanya menonjolkan angka bunga tinggi tanpa menjelaskan potongan pajak atau syaratnya
- Bisa menentukan tenor dan strategi perpanjangan yang paling menguntungkan
- Lebih sadar apakah keuntungan deposito masih lebih besar dari laju inflasi
Rumus Dasar Cara Menghitung Suku Bunga Deposito

Rumus yang umum dipakai untuk menghitung bunga deposito, seperti yang juga dirujuk dalam panduan OJK, adalah sebagai berikut.
Bunga deposito = (Suku bunga × Pokok deposito × Jumlah hari penyimpanan) ÷ 365
Pajak deposito = 20% × Bunga deposito
Bunga bersih = Bunga deposito − Pajak deposito
Supaya lebih jelas, berikut penjelasan setiap komponennya.
Pokok deposito adalah jumlah uang yang kamu simpan di awal, misalnya Rp50 juta. Suku bunga adalah persentase bunga per tahun yang ditawarkan bank, misalnya 5 persen.
Jumlah hari penyimpanan adalah lama dana disimpan sesuai tenor yang kamu pilih, misalnya 30 hari untuk tenor satu bulan atau 365 hari untuk tenor satu tahun. Angka 365 dipakai karena suku bunga deposito dihitung per tahun.
Kalau kamu lebih suka menghitung per bulan, rumusnya bisa disederhanakan menjadi suku bunga dikali pokok, lalu dikali jumlah bulan dibagi 12. Hasilnya bisa sedikit berbeda dengan rumus harian, tergantung cara bank menghitung.
Lalu soal pajak, bunga deposito di Indonesia dikenai pajak penghasilan final sebesar 20 persen. Pajak ini berlaku kalau total saldo simpananmu di bank tersebut lebih dari Rp7,5 juta. Pajaknya langsung dipotong oleh bank, jadi kamu nggak perlu menyetorkannya sendiri.
Simulasi Praktis: Menghitung Bunga Deposito Kotor dan Bersih

Supaya lebih kebayang, misalkan kamu menyimpan uang Rp50 juta di deposito dengan suku bunga 5 persen per tahun dan tenor 12 bulan. Berikut langkah perhitungannya.
- Hitung bunga kotor. Rp50.000.000 × 5% × 365 ÷ 365 = Rp2.500.000.
- Hitung pajak deposito. 20% × Rp2.500.000 = Rp500.000.
- Hitung bunga bersih. Rp2.500.000 − Rp500.000 = Rp2.000.000.
- Hitung total dana saat jatuh tempo. Rp50.000.000 + Rp2.000.000 = Rp52.000.000.
Kalau dirangkum dalam tabel, hasilnya seperti ini.
| Keterangan | Nominal |
|---|---|
| Pokok deposito | Rp50.000.000 |
| Suku bunga per tahun | 5% |
| Bunga kotor (sebelum pajak) | Rp2.500.000 |
| Pajak 20% | Rp500.000 |
| Bunga bersih (setelah pajak) | Rp2.000.000 |
| Total dana saat jatuh tempo | Rp52.000.000 |
Dari simulasi ini terlihat bahwa bunga 5 persen yang ditawarkan bank sebenarnya setara dengan imbal hasil bersih sekitar 4 persen setelah pajak. Kalau kamu memilih menerima bunga setiap bulan, bunga bersih yang masuk sekitar Rp166.667 per bulan.
Strategi ARO (Automatic Roll Over): Efek Bunga Berbunga

ARO atau Automatic Roll Over adalah fitur perpanjangan otomatis saat deposito jatuh tempo. Ada dua jenis yang umum ditawarkan. ARO pokok berarti hanya pokok yang diperpanjang, sementara bunganya ditransfer ke rekening tabunganmu.
Sedangkan ARO pokok plus bunga berarti bunga yang kamu dapat ikut digabungkan ke pokok lalu diperpanjang bersama.
Pilihan kedua inilah yang memunculkan efek bunga berbunga atau compounding. Karena pokok bertambah setiap kali deposito diperpanjang, bunga di periode berikutnya juga ikut membesar.
Coba lihat simulasinya dengan asumsi yang sama, yaitu pokok Rp50 juta, bunga 5 persen per tahun, pajak 20 persen, dan suku bunga nggak berubah selama periode simpanan.
| Jangka Waktu | Bunga Ditarik Setiap Tahun | ARO Pokok + Bunga | Selisih |
|---|---|---|---|
| 1 tahun | Rp2.000.000 | Rp2.000.000 | Rp0 |
| 3 tahun | Rp6.000.000 | Rp6.243.200 | Rp243.200 |
| 5 tahun | Rp10.000.000 | Rp10.832.645 | Rp832.645 |
Di tahun pertama hasilnya memang sama. Tapi semakin lama dana disimpan, selisihnya makin terasa. Dalam lima tahun, strategi ARO pokok plus bunga menghasilkan tambahan sekitar Rp832 ribu dibanding kalau bunganya ditarik setiap tahun.
Perlu diingat, simulasi ini memakai asumsi suku bunga tetap. Kenyataannya, bunga deposito bisa naik atau turun saat perpanjangan mengikuti kebijakan bank.
Kalau kamu ingin tahu gambaran bunga di bank tertentu, kamu bisa cek bunga deposito BSI 100 juta terbaru sebagai contoh perbandingan.
Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Bunga Deposito

Besar kecilnya bunga deposito nggak hanya ditentukan oleh bank. Ada faktor ekonomi makro yang ikut berpengaruh, di antaranya:
- BI Rate atau suku bunga acuan dari Bank Indonesia sering jadi patokan bank dalam menentukan bunga deposito. Saat BI Rate naik, bunga deposito biasanya ikut naik, dan sebaliknya.
- Inflasi, yaitu kenaikan harga barang dan jasa secara umum. Semakin tinggi inflasi, semakin besar pula daya beli uangmu yang tergerus.
Sebagai ilustrasi, kalau imbal hasil bersih depositomu 4 persen per tahun sementara inflasi di tahun yang sama misalnya 2,5 persen, keuntungan riilmu hanya sekitar 1,5 persen.
Dari deposito Rp50 juta tadi, tambahan daya beli yang benar-benar kamu dapat cuma sekitar Rp730 ribu, bukan Rp2 juta. Jadi kalau bunga bersih deposito lebih kecil dari inflasi, nilai riil uangmu justru bisa berkurang meski nominalnya bertambah.
Kesimpulan
Cara menghitung suku bunga deposito sebenarnya cukup sederhana. Kalikan suku bunga dengan pokok dan jumlah hari penyimpanan, lalu bagi 365 untuk mendapat bunga kotor.
Setelah itu kurangi pajak 20 persen untuk mengetahui bunga bersih yang benar-benar kamu terima. Kalau ingin hasil yang lebih optimal dalam jangka panjang, pertimbangkan ARO pokok plus bunga supaya efek bunga berbunga bekerja.
Jangan lupa juga memperhatikan BI Rate dan inflasi, karena keduanya menentukan apakah keuntungan depositomu benar-benar bertambah secara riil.
Ingin tahu lebih banyak soal perbandingan bunga deposito dan tips menyimpan dana dengan cerdas? Yuk, baca artikel lainnya di deposito.co.id. Karena uang yang dikelola dengan tepat bisa bekerja lebih keras untukmu.










