IHSG ramai dibahas karena naik 4,9% sepekan ke 5.439,26 pada Jumat, 23 Oktober 2026. Penopangnya sinyal beli Danantara, rencana buyback emiten, dan awal rilis laporan keuangan kuartal III. Namun IHSG awal pekan, Senin (26/10/2026), justru ditutup turun 1,22% ke 5.373,09, menurut data ringkasan indeks Bursa Efek Indonesia (BEI).
Investor asing juga belum kembali. Situs berita pasar IDNFinancials mencatat jual bersih asing Rp1,62 triliun di pasar reguler pada Jumat itu, saat indeks justru menguat.
Rebound Sepekan Tertahan di IHSG Awal Pekan
Data penutupan harian BEI membentuk pola V. Indeks jatuh ke 4.996,61 pada 19 Oktober 2026, lalu naik empat hari beruntun sampai 5.439,26 pada 23 Oktober.

Pada 26 Oktober 2026, IHSG sempat dibuka di 5.442,30 dan menyentuh 5.453,65 sebelum berbalik, menurut catatan CNBC Indonesia. Kompas.com melaporkan seluruh sektor melemah, dipimpin infrastruktur (-2,47%), energi (-2,36%), dan teknologi (-2,06%).
Latarnya masih guncangan MSCI. Pada 15 Oktober 2026, MSCI membuka konsultasi reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market, dengan keputusan paling lambat 30 Juni 2027, sesuai siaran pers MSCI. Kronologi hari terberatnya ada di ulasan trading halt IHSG 16 Oktober 2026.
Tiga Penopang yang Disebut Analis
Riset CGS International Sekuritas Indonesia yang dikutip IDNFinancials pada 26 Oktober 2026 menyebut tiga penopang pasar saham saat ini.
1. Danantara Mulai Belanja Saham
CIO Danantara Pandu Sjahrir menyatakan lembaganya mulai membeli saham di BEI sejak 21 Oktober 2026, seperti dilaporkan Katadata pada 22 Oktober. Fokusnya saham BUMN yang fundamentalnya dinilai baik, sementara nilai pembeliannya belum diungkap.
Tanpa angka, pasar menebak sendiri seberapa tebal bantalan ini. Selama nilainya belum dibuka, wajar bila pelaku pasar memperlakukannya sebagai sentimen, bukan jaring pengaman indeks.
2. Rilis Laporan Keuangan Kuartal III
Musim laporan keuangan Juli–September 2026 mulai berjalan. Laporan ini memberi angka laba nyata untuk menguji apakah harga saham yang sudah turun dalam memang tergolong murah.
3. Rencana Buyback Emiten
Menurut CGS, pembelian kembali saham oleh sejumlah emiten bisa meredam tekanan jual di tengah volatilitas rupiah. Salah satu contohnya buyback saham BCA yang berlanjut pada 19–21 Oktober 2026.
Rem yang Masih Menahan Laju Indeks
CGS menilai koreksi Wall Street dan melemahnya harga logam membatasi penguatan. Phintraco Sekuritas menambahkan risiko kenaikan harga minyak, koreksi emas, dan depresiasi rupiah.
Ketiga sekuritas yang dikutip IDNFinancials memasang level berikut menjelang perdagangan Senin (26/10):
- CGS International: support 5.360 dan 5.280, resistance 5.520 dan 5.600.
- Kiwoom Sekuritas: bila bertahan di atas 5.424, indeks berpeluang ke 5.520 hingga 5.607–5.631.
- Phintraco Sekuritas: histogram MACD negatif terus menyempit, membuka ruang ke 5.500–5.600.
Penutupan 5.373,09 pada Senin sudah jatuh di bawah level 5.424 versi Kiwoom. Indeks masih di atas support pertama CGS di 5.360, tetapi selisihnya tinggal sekitar 13 poin.

Ruang turunnya ke support kedua 93 poin, sedangkan ruang naiknya ke resistance pertama 147 poin, dihitung dari angka analis di atas. Artinya, ruang gerak ke dua arah masih sama-sama terbuka.
Artinya Buat Investor dan Penabung
Untuk investor saham, Kiwoom menyarankan pembelian selektif saat harga melemah dan menunggu konfirmasi arah sebelum akumulasi besar. Saran ini masuk akal, karena satu hari perdagangan saja bisa memangkas sebagian rebound sepekan.
Untuk dana yang dipakai dalam 1–2 tahun, gejolak seperti ini alasan kuat menaruhnya di simpanan yang nilainya tidak ikut indeks. LPS menetapkan tingkat bunga penjaminan simpanan rupiah di bank umum 3,75% untuk 1 Oktober 2026–31 Januari 2027. Batas penjaminannya Rp2 miliar per nasabah per bank.
Deposito berbunga di atas 3,75% tidak masuk penjaminan LPS. Bank Indonesia juga menahan BI-Rate di 5,75% pada RDG 21 Oktober 2026, sehingga bunga simpanan belum punya alasan untuk naik cepat.
Cara membagi porsi saham dan simpanan saat bursa tertekan dibahas di ulasan dampak MSCI bagi investor.
Angka yang Perlu Dicek Pekan Ini
Ada tiga hal yang layak dipantau: apakah IHSG kembali di atas 5.424, apakah asing berhenti mencatat jual bersih, dan apakah Danantara membuka nilai pembeliannya. Ketiganya lebih menentukan arah pekan ini daripada satu hari merah.
Referensi Artikel:
Sekali.id
Kastakilat.id










