IHSG membuka Oktober 2026 di level rendah. Indeks ditutup di 6.036,88 pada Jumat, 2 Oktober 2026, turun 3,28% dalam sepekan dan sekitar 30% dibanding akhir 2025, menurut data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI).
Bagi penabung deposito, kabar baiknya: simpanan di bank tidak ikut turun. Artikel ini merangkum apa yang terjadi di pasar saham, penyebab utamanya, dan apa artinya untuk kamu yang menyimpan uang di deposito atau sedang menimbang masuk ke saham.
Apa yang Terjadi di Pasar Saham
Sepanjang pekan 28 September–2 Oktober 2026, IHSG turun dari 6.241,89 menjadi 6.036,88. Kapitalisasi pasar BEI ikut turun 2,55% menjadi sekitar Rp10.627 triliun.
Pelemahan ini melanjutkan bulan September yang berat. IHSG turun sekitar 6,95% sepanjang September dan ditutup di 6.071,13 pada 30 September 2026.
Jika dibandingkan dengan penutupan akhir 2025 di 8.646,94, posisi 6.036,89 pada 2 Oktober berarti turun sekitar 30,2% dalam sembilan bulan. Ini salah satu penurunan tahunan terdalam dalam beberapa tahun terakhir.
Investor asing menjadi penjual bersih. BEI mencatat jual bersih asing Rp1,27 triliun dalam sepekan, dan totalnya sejak awal 2026 mencapai Rp82,55 triliun.
Menariknya, aktivitas perdagangan justru naik. Rata-rata nilai transaksi harian pekan itu Rp12,63 triliun, naik 5,40% dari pekan sebelumnya.
Penyebab Pelemahan IHSG
Tekanan terbesar datang dari luar negeri. Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana, dikutip Liputan6, menyebut imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun sempat mencapai 5,3%, tertinggi sejak 2002.
Imbal hasil setinggi itu membuat aset di negara berkembang kurang menarik. Dana asing keluar, rupiah tertekan, dan saham-saham berkapitalisasi besar ikut dijual.
Bank Indonesia juga menyinggung tekanan eksternal ini. Dalam Rapat Dewan Gubernur 22–23 September 2026, BI mempertahankan BI-Rate di 5,75% untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang kuat.
Ada juga faktor dari dalam bursa. Sejak 1 Oktober 2026, BEI menerapkan sejumlah penyempurnaan kebijakan, termasuk menurunkan harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 dan memulai uji coba short selling untuk lima saham. Analis yang sama menilai perubahan batas bawah harga meningkatkan likuiditas, tapi juga volatilitas.
Dampak ke Penabung Deposito
Deposito tidak terhubung dengan harga saham. Penurunan IHSG tidak mengurangi pokok maupun bunga deposito yang sudah berjalan.
Simpanan di bank tetap dijamin LPS hingga Rp2 miliar per nasabah per bank, selama bunganya tidak melebihi tingkat penjaminan. Untuk 1 Oktober 2026–31 Januari 2027, batasnya 3,75% di bank umum dan 6,25% di BPR, sesuai keputusan LPS yang dibahas di ulasan bunga penjaminan LPS Oktober 2026.
Bunga deposito juga belum banyak bergerak. Dengan BI-Rate yang ditahan di 5,75%, bunga deposito bank besar masih di kisaran 2,50%–3,00% per tahun, seperti BRI yang memasang 3,00% untuk tenor 1–6 bulan (update 4 Agustus 2026).
Bagi penabung yang ingin hasil lebih tinggi tanpa masuk ke saham, ada pilihan lain yang masih tersedia. Savings Bond Ritel SBR015 dengan kupon minimal 6,75% untuk tenor dua tahun masih ditawarkan sampai 22 Oktober 2026.
Perbandingan Pilihan untuk Rp50 Juta
Untuk gambaran, berikut hasil bersih setahun dari Rp50 juta di beberapa pilihan yang nilainya tidak mengikuti harga saham.
Di deposito bank BUMN berbunga 2,50%, hasil bersih setahun sekitar Rp1 juta. Di deposito BPR berbunga 6,25%, batas penjaminan LPS untuk BPR, hasilnya sekitar Rp2,5 juta.
SBR015T2 dengan kupon 6,75% dan pajak 10% menghasilkan sekitar Rp3,04 juta per tahun selama kupon tidak berubah. Kelemahannya, dana terikat sampai Oktober 2028 dan hanya bisa dicairkan sebagian pada periode tertentu, seperti dibahas di ulasan SBR015 vs deposito.
Ketiga pilihan ini punya nilai pokok yang stabil. Bedanya ada pada tingkat hasil, lama dana terkunci, dan jenis jaminannya.
Bagaimana dengan Investor Saham
Jumlahnya tidak sedikit. Menurut BEI, investor pasar modal Indonesia mencapai 31,9 juta SID per September 2026, dan banyak di antaranya ikut merasakan turunnya nilai portofolio tahun ini.
Bagi yang sudah memegang saham, penurunan ini terasa nyata. Tapi menjual dalam kepanikan saat harga sedang rendah berarti mengunci kerugian yang sebelumnya hanya tercatat di aplikasi.
Pertanyaan yang lebih berguna adalah: kapan uang di saham itu akan dipakai? Jika masih lima tahun lagi atau lebih, ada ruang untuk menunggu. Jika dibutuhkan dalam waktu dekat, mungkin porsinya memang terlalu besar sejak awal.
Bagi yang belum berinvestasi, harga yang lebih rendah sering dianggap kesempatan. Masuk akal hanya bila dana darurat sudah aman dan uangnya benar-benar bisa didiamkan, karena tidak ada yang bisa memastikan kapan pasar berhenti turun.
Istilah-istilah dasar yang sering muncul di berita pasar, seperti indeks, kapitalisasi pasar, dan jual bersih asing, dijelaskan di ulasan apa itu IHSG.
Yang Perlu Dipantau Bulan Ini
Pertama, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 20–21 Oktober 2026. Keputusan BI-Rate akan memengaruhi arah bunga deposito dan sentimen pasar saham.
Kedua, batas akhir penawaran SBR015 pada 22 Oktober 2026, bagi yang mempertimbangkan alternatif berkupon tetap minimal.
Ketiga, arah imbal hasil obligasi Amerika Serikat dan aliran dana asing. Selama tekanan ini belum mereda, volatilitas IHSG kemungkinan masih tinggi, menurut penilaian para analis.
Kesimpulan
Pasar saham sedang turun tajam, tapi deposito yang bunganya di bawah batas LPS tetap aman dan terus berbunga. Tetap tenang, pisahkan uang untuk kebutuhan dekat dari uang jangka panjang, dan biarkan setiap rupiah bekerja sesuai fungsinya.
Referensi Artikel:
- Bank Indonesia — BI-Rate Tetap 5,75% (RDG 22–23 September 2026)
- Bank Indonesia — Jadwal RDG Bulanan 2026
- LPS — Tingkat Bunga Penjaminan Oktober 2026–Januari 2027
- BEI — Jam dan Mekanisme Perdagangan (Kep-00136/BEI/09-2026)
- DJPPR Kemenkeu — FAQ Savings Bond Ritel
- BRI — Suku Bunga Deposito Rupiah, dicek 3 Oktober 2026
Sekali.id
Kastakilat.id











