Deposito.co.id
  • Keuangan
  • Investasi
  • Deposito
  • Perbankan
  • Kalkulator Deposito
  • Network
    • Sekali.id
    • Kastakilat.id
    • Jakartabuilding.id
No Result
View All Result
Deposito.co.id
  • Keuangan
  • Investasi
  • Deposito
  • Perbankan
  • Kalkulator Deposito
  • Network
    • Sekali.id
    • Kastakilat.id
    • Jakartabuilding.id
No Result
View All Result
Deposito.co.id
No Result
View All Result

Beranda » Investasi Deposito Adalah Passive Income? Ini Fakta yang Jarang Diungkap Bank

Investasi Deposito Adalah Passive Income? Ini Fakta yang Jarang Diungkap Bank

Iqbal Fajri by Iqbal Fajri
19/10/2026
in Deposito
Reading Time: 3 mins read
A A
Apa itu investasi deposito

Sumber Freepik

Share on FacebookShare on Twitter

“Deposito itu passive income, uang bekerja sendiri tanpa repot!”

Kalimat ini sering terdengar dari para agen bank atau influencer finansial.

Namun benarkah deposito memberikan passive income murni seperti yang dijanjikan?

Setelah mendalami mekanisme deposito dan menganalisis data historis, faktanya tidak sesederhana itu.

Memahami Passive Income vs Realita Deposito

Passive income sejati memiliki tiga karakteristik utama: minim effort setelah setup awal, bisa di-scale, dan menghasilkan recurring income tanpa keterlibatan aktif.

Deposito memang terlihat memenuhi kriteria ini.

Deponesia cukup menempatkan dana, lalu bunga mengalir otomatis setiap jatuh tempo.

Tapi tunggu dulu.

Kenyataannya, deposito membutuhkan serangkaian keputusan aktif yang jarang dibahas bank.

Baca Juga: Deposito Termasuk Investasi Kategori Apa? Ini Penjelasan Lengkapnya

ADVERTISEMENT

1. Deposito Butuh Pengelolaan Aktif

Saat jatuh tempo, Deponesia dihadapkan pada pilihan krusial: aktifkan Automatic Roll Over (ARO) atau cairkan dana?

Memilih ARO berarti dana otomatis diperpanjang dengan tenor sama.

Kedengarannya praktis, tapi apakah bunga masih kompetitif?

Bank lain mungkin menawarkan rate lebih tinggi 0.5-1% yang dalam jangka panjang bisa berdampak signifikan.

Misalnya deposito Rp 100 juta dengan bunga 5.5% menghasilkan Rp 5.5 juta per tahun.

Bandingkan jika Deponesia aktif mencari bank dengan bunga 6.5%, selisih Rp 1 juta per tahun atau Rp 10 juta dalam dekade.

Ini bukan passive income sejati karena memerlukan monitoring berkala dan keputusan strategis.

2. Pajak 20% Memangkas Passive Income Drastis

Inilah yang jarang dijelaskan di brosur bank: setiap bunga deposito di atas Rp 7.5 juta kena potongan PPh Pasal 4 ayat 2 sebesar 20%.

Langsung dipotong bank sebelum masuk rekening Deponesia.

Mari hitung riilnya.

Baca Juga:  Apakah Deposito Aman Saat Bank Tutup? Prosedur Klaim LPS Dalam 5 Hari

Deposito Rp 100 juta dengan bunga 6% per tahun menghasilkan gross income Rp 6 juta.

Setelah pajak 20% (Rp 1.2 juta), net income tinggal Rp 4.8 juta.

ADVERTISEMENT

Return riil hanya 4.8%, bukan 6% seperti yang tertera di spanduk bank.

Untuk deposito Rp 50 juta dengan bunga 5.5%, gross income Rp 2.75 juta dipangkas pajak Rp 550 ribu menjadi nett Rp 2.2 juta saja.

Passive income yang sebenarnya jauh lebih kecil dari ekspektasi awal.

3. Inflasi Menggerus Nilai Riil Uang Deponesia

Data 10 tahun terakhir dari PT Bahana TCW Investment Management mengungkap fakta mengejutkan.

Total bunga deposito hanya 59.2% atau rata-rata 4.6% per tahun.

Sementara inflasi kumulatif mencapai 76.4% dalam periode sama.

Artinya daya beli uang Deponesia justru turun meskipun nominal bertambah.

Lebih parah lagi untuk inflasi pangan yang menyentuh 141%.

Konsep ini disebut “real return” – keuntungan setelah memperhitungkan inflasi.

Formula sederhananya: Real Return = Nominal Return – Inflasi.

Jika bunga deposito nett 4.8% dikurangi inflasi 3.5%, real return hanya 1.3% per tahun.

Uang Rp 100 juta hari ini dengan pertumbuhan 1.3% per tahun butuh 54 tahun untuk menjadi Rp 200 juta dalam nilai riil.

4. Deposito Bukan untuk Melipatgandakan Kekayaan

Menggunakan Rule of 72 (membagi 72 dengan persentase return tahunan), kita bisa menghitung kapan modal berganda.

Dengan bunga deposito nett 4.8%, butuh 15 tahun agar Rp 100 juta menjadi Rp 200 juta.

Bandingkan dengan saham yang historis memberikan return 15% per tahun – hanya butuh 4.8 tahun untuk double.

Data menunjukkan dalam 10 tahun terakhir, saham memberikan total return 249.6%, obligasi negara 150-180%, sementara deposito cuma 59.2%.

Baca Juga:  Mengapa Proses Pencairan Bunga Deposito Bisa Tertunda Hingga Seminggu?

Volatilitas deposito memang paling stabil (standar deviasi 0.3% vs saham 21.5%), tapi growth potential-nya terbatas.

Deposito cocok untuk preservasi modal, bukan wealth creation.

Baca Juga: Apa Itu Investasi? Simak Penjelasan Lengkapnya

5. Opportunity Cost yang Tersembunyi

Setiap rupiah di deposito berarti kehilangan peluang pertumbuhan dari instrumen lain.

Ini disebut opportunity cost.

Simulasi sederhana: Rp 100 juta full deposito selama 5 tahun dengan bunga nett 4.8% menghasilkan total Rp 126.5 juta.

Bandingkan portofolio hybrid: 40% deposito, 30% obligasi negara (yield 6.5%), 30% reksa dana saham (return 12%).

Blended return mencapai 7.5% per tahun atau total Rp 143.5 juta dalam 5 tahun.

Selisih Rp 17 juta adalah opportunity cost dari strategi all-in deposito.

Kapan Deposito Tepat sebagai Passive Income?

Bukan berarti deposito buruk.

Deposito sangat cocok untuk investor konservatif, dana darurat, atau saving goal jangka pendek 1-2 tahun.

Juga ideal sebagai bagian portofolio diversifikasi, bukan satu-satunya aset.

Untuk memaksimalkan deposito, gunakan teknik laddering: bagi dana ke beberapa tenor berbeda (3, 6, 12 bulan) agar punya akses likuiditas berkala sambil tetap dapat bunga optimal.

Bandingkan bunga minimal 3 bank setiap rollover.

Pertimbangkan obligasi negara (SBN) dengan yield 6-7% dan dijamin pemerintah sebagai alternatif lebih menguntungkan.

Atau reksa dana pasar uang yang lebih likuid dengan potensi return 6-7% tanpa terikat tenor.

Baca Juga: 5 Keuntungan Deposito di Bank untuk Keuangan Pribadi

Deposito adalah “Semi-Passive Income”

Jadi, apakah investasi deposito adalah passive income? Untuk pemula, simak juga cara investasi di bank yang cocok untuk pemula sebagai pembanding.

Jawabannya: Ya, tapi dengan banyak catatan.

Deposito lebih tepat disebut “semi-passive income” karena butuh pengelolaan aktif berkala, terpangkas pajak 20%, tergerus inflasi, dan memiliki opportunity cost signifikan.

Baca Juga:  Deposito di BPR Vs Bank Umum, Pilih Mana?

Deposito excellent untuk stabilitas dan preservasi modal jangka pendek, namun bukan strategi optimal untuk wealth creation jangka panjang.

Kunci sukses: jangan jadikan deposito satu-satunya sumber passive income.

Kombinasikan dengan instrumen lain sesuai profil risiko dan tujuan finansial Deponesia.

Passive income sejati tercipta dari portofolio terdiversifikasi, bukan dari satu instrumen saja.

Saatnya Deponesia evaluasi ulang strategi investasi – apakah deposito masih relevan dengan goals finansial jangka panjang?

 

Add as a preferred source on Google
Tags: investasi deposito adalahpassive income deposito
ADVERTISEMENT
Previous Post

Dana Pemerintah Rp653 Triliun Mengendap di Bank: Investigasi Menkeu Bongkar Paradoks Fiskal Indonesia

Next Post

Perbandingan Bunga Deposito dengan Profit Trading: Mana yang Realistis untuk Modal Rp 50 Juta?

Iqbal Fajri

Iqbal Fajri

Seorang Mahasiswa S2 Magister Manajemen dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Tertarik pada investasi seperti saham, deposito dan Instrumen lainnya.

Artikel Terkait

Cara Mendapat Bupot PPh Pasal 4 Ayat 2 Bunga Deposito
Deposito

Cara Mendapat Bupot PPh Pasal 4 Ayat 2 Bunga Deposito

30/10/2025
presentasi mekanisme bank
Deposito

Bagaimana Cara Bank Kelola Dana Deposito agar Bunga Konsisten?

27/11/2025
Suku bunga deposito bank mandiri 2025
Deposito

Simulasi Bunga Deposito Mandiri Rp100 Juta Juni 2025: Syarat Mudah & Keuntungan Kompetitif

31/10/2025
keuntungan deposito
Deposito

Deposito 1 Miliar, Bunga Berapa per Bulan? Cek Simulasinya

21/10/2026
apa itu maxi saver di aplikasi Jenius?
Deposito

Cara Menghitung Keuntungan Bunga Deposito Jenius

21/10/2026
Bunga Deposito 100 Miliar
Deposito

Besaran Bunga Deposito 100 Miliar BCA, BRI, BNI dan Mandiri

21/10/2026
Keuntungan deposito BRI
Deposito

7 Keuntungan Deposito di Bank BRI dan Cara Menghitungnya

31/10/2025
bank jateng vs bank bri
Deposito

Berapa Bunga Deposito BRI vs Bank Jateng? Update September 2025

29/10/2025
isi suku bunga deposito bca
Deposito

Deposito BCA untuk Milenial: Strategi Auto-Debet Gaji ke E-Deposito untuk Disiplin Finansial

29/10/2025
Next Post
Seorang wanita sedang melihat candlestick

Perbandingan Bunga Deposito dengan Profit Trading: Mana yang Realistis untuk Modal Rp 50 Juta?

Beragam jenis mata uang

Kontroversi Bunga Deposito Valas 4% Bank BUMN: Ancaman atau Peluang untuk Nasabah?

Please login to join discussion

Trending🔥

  • Buku Cek BCA 1

    Buku Cek BCA: Cara Buat, Biaya & Prosedur Pengajuan Lengkap

    1133 shares
    Share 453 Tweet 283
  • Uang Misterius Masuk Rekening? Begini Cara Melihat Pengirimnya

    881 shares
    Share 352 Tweet 220
  • Bilyet Giro BCA: Cara Mengisi, Mencairkan & Syarat Lengkap 2025

    871 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Template Surat Resign Kerja yang Benar Free Download Word

    1430 shares
    Share 572 Tweet 358
  • Pengertian Deposito untuk Pemula: Definisi, Jenis-Jenis dan Cara Kerjanya

    914 shares
    Share 366 Tweet 229
ADVERTISEMENT
Deposito.co.id

© 2026 Deposito.co.id. All Rights Reserved.

Tautan

  • Bunga Deposito Hari Ini: Bunga per Tenor di 12 Bank Besar
  • Careers
  • Deposito
  • Disclaimer
  • Hubungi Kami
  • Kalkulator Deposito Semua Bank
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Syarat dan Ketentuan
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Keuangan
  • Investasi
  • Deposito
  • Perbankan
  • Kalkulator Deposito
  • Network
    • Sekali.id
    • Kastakilat.id
    • Jakartabuilding.id

© 2026 Deposito.co.id. All Rights Reserved.