Rencana belanja negara kuartal IV 2026 sekitar Rp1.300 triliun disampaikan Menteri Keuangan Suahasil Nazara di Istana Merdeka, menurut CNBC Indonesia edisi 20 Oktober 2026. Angka untuk Oktober–Desember itu melampaui sisa pagu belanja APBN 2026 per 30 September, yaitu sekitar Rp1.182,2 triliun.
Perlu dicatat, angka ini masih proyeksi lisan. Sampai 20 Oktober 2026 belum ada outlook resmi tertulis dari Kementerian Keuangan yang memuatnya.
Yang Disampaikan Menkeu Suahasil Nazara
Menurut laporan CNBC Indonesia 20 Oktober 2026, Suahasil menyebut belanja kuartal IV 2025 sekitar Rp1.200 triliun. Jadi rencana tahun ini lebih besar kira-kira Rp100 triliun, atau naik sekitar 8% (hitungan redaksi).
Belanja itu diarahkan ke layanan publik dan perlindungan sosial, termasuk bantuan pangan kuartal IV. Suahasil juga menyebut reviu anggaran akhir tahun sebagai langkah rutin, dan efisiensi tidak berarti belanja dihentikan.
Target Defisit Naik ke 2,85% PDB
Masih menurut CNBC Indonesia, pemerintah akan menjaga defisit APBN sekitar 2,85% PDB hingga akhir tahun. Target dalam UU Nomor 17 Tahun 2025 tentang APBN 2026 hanya 2,68% PDB.
Posisi Belanja Negara Hingga 30 September 2026
Data resmi terakhir ada di siaran pers Kementerian Keuangan 9 Oktober 2026. Belanja negara sudah terealisasi Rp2.660,5 triliun atau 69,2% APBN, tumbuh 19% dibanding periode yang sama 2025.
| Pos belanja | Realisasi s.d. 30 Sep 2026 | Keterangan resmi |
|---|---|---|
| Belanja K/L | Rp1.069,4 triliun | Tumbuh 33,5% (yoy) |
| Belanja non-K/L | Rp991,9 triliun | Tumbuh 25,7% (yoy) |
| Transfer ke Daerah | Rp599,2 triliun | 86,5% dari APBN |
| Total belanja negara | Rp2.660,5 triliun | 69,2% APBN, tumbuh 19% |
Siaran pers Kemenkeu 9 Oktober 2026 juga mencatat pendapatan negara Rp2.341,5 triliun atau 74,2% APBN. Defisit hingga September tercatat 1,24% PDB, dengan surplus keseimbangan primer Rp125,5 triliun.
Rp1.300 Triliun Lebih Besar dari Sisa Pagu
Pagu belanja dalam UU APBN 2026 sebesar Rp3.842,7 triliun. Dikurangi realisasi per 30 September menurut Kemenkeu, sisa pagu tinggal sekitar Rp1.182,2 triliun (hitungan redaksi).

Jika Rp1.300 triliun benar terealisasi, total belanja 2026 menjadi sekitar Rp3.960,5 triliun atau kira-kira 103% pagu (simulasi redaksi). Ini sejalan dengan target defisit yang melebar ke 2,85% PDB.
Namun, belum ada dokumen resmi yang merinci dari mana tambahan belanja itu berasal. Bisa jadi angka itu juga pembulatan kasar dalam pernyataan lisan.
Ritme Belanja Harus Jauh Lebih Cepat
Rata-rata belanja Januari–September sekitar Rp295,6 triliun per bulan. Rencana kuartal IV setara Rp433,3 triliun per bulan, sekitar 47% lebih cepat (simulasi redaksi dari data Kemenkeu dan CNBC Indonesia).

Artinya Buat Kamu
Belanja negara tidak langsung masuk ke rekening semua orang. Tapi ada tiga jalur yang bisa kamu rasakan dalam tiga bulan ke depan.
Bantuan Pangan dan Perlindungan Sosial
Menkeu menyebut bantuan pangan kuartal IV diharapkan menopang konsumsi rumah tangga, menurut CNBC Indonesia. Jika keluargamu penerima, cek statusnya dengan NIK di laman resmi Cek Bansos Kementerian Sosial (cekbansos.kemensos.go.id).
Waspadai pesan berantai yang meminta data pribadi atau biaya pencairan. Jangan mengirim uang atau kode OTP kepada pihak yang mengaku petugas.
Defisit Lebih Lebar, Kebutuhan Pembiayaan Naik
Defisit tercatat 1,24% PDB per September (Kemenkeu) dan diarahkan ke 2,85% PDB (CNBC Indonesia). Selisih itu perlu ditutup pembiayaan, antara lain lewat penerbitan surat berharga negara.
Bagi penabung, ini alasan memantau imbal hasil SBN ritel berikutnya. Bandingkan hasil bersihnya dengan deposito vs SBN ritel sebelum memindahkan dana.
Bunga Simpanan Tidak Otomatis Berubah
Rencana belanja ini tidak mengubah bunga deposito secara langsung. Patokan yang lebih relevan tetap tingkat bunga penjaminan LPS Oktober 2026, karena bunga di atas batas itu membuat simpanan keluar dari penjaminan.
Mau menghitung hasil deposito dengan bunga yang ditawarkan bankmu? Pakai kalkulator deposito sebelum membuka bilyet baru.
Angka yang Perlu Dicek Berikutnya
Ujian pertama ada di konferensi pers APBN KiTa berikutnya, yang memuat realisasi hingga Oktober 2026. Jika belanja Oktober jauh di bawah rata-rata Rp433,3 triliun tadi, November dan Desember harus menanggung porsi lebih besar (simulasi redaksi).
Pantau juga apakah Kemenkeu merilis outlook tertulis yang memuat target defisit 2,85% PDB. Selama belum ada, perlakukan angka belanja kuartal IV 2026 sebagai rencana, bukan kepastian.
Referensi Artikel:
Sekali.id
Kastakilat.id









