Per penutupan perdagangan 2 Oktober 2026, saham dengan dividend yield tertinggi di daftar redaksi adalah PSAB (J Resources Asia Pasifik) dengan yield sekitar 26,2%, disusul BSSR (Baramulti Suksessarana) 23,7% dan MPMX (Mitra Pinasthika Mustika) 16,8%. Enam belas saham di daftar ini semuanya punya yield di atas 10%, jauh di atas bunga penjaminan LPS untuk bank umum yang sebesar 3,75%.
Angka setinggi itu muncul di tengah pasar yang sedang lesu. IHSG turun dari 8.646,94 di akhir 2025 ke 6.036,88 pada 2 Oktober 2026, atau sekitar 30%.
Ketika harga saham jatuh sementara dividen yang sudah dibagikan tetap, yield otomatis membesar. Jadi daftar ini perlu dibaca bersama konteksnya, bukan sekadar diurutkan dari angka terbesar.
Cara Redaksi Menyusun Daftar Ini
Yield di artikel ini adalah trailing yield: total dividen tunai per saham dengan tanggal ex-dividen antara 3 Oktober 2025 dan 2 Oktober 2026, dibagi harga penutupan 2 Oktober 2026. Data harga dan riwayat dividen diambil dari data pasar, lalu dicocokkan dengan pengumuman pembagian dividen emiten yang dimuat media.
Redaksi menyaring sekitar 72 saham yang rutin membagikan dividen dan cukup likuid, termasuk anggota indeks dividen dan saham bank besar. Artinya, daftar ini tidak mencakup seluruh emiten di Bursa Efek Indonesia.
Saham yang sangat tidak likuid atau yang dividennya sangat kecil secara nominal sengaja tidak dimasukkan.
Satu hal penting: yield dihitung dari dividen yang sudah dibayar, bukan dividen yang akan datang. Dividen tahun depan bisa lebih kecil, lebih besar, atau bahkan tidak ada sama sekali, tergantung laba dan keputusan rapat umum pemegang saham.
Tabel 16 Saham Dividen Tertinggi
| No | Kode | Emiten | Dividen 12 bulan (Rp/saham) | Harga 2 Okt 2026 (Rp) | Yield |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | PSAB | J Resources Asia Pasifik | 135 | 515 | 26,21% |
| 2 | BSSR | Baramulti Suksessarana | 1.242,29 | 5.250 | 23,66% |
| 3 | MPMX | Mitra Pinasthika Mustika | 170 | 1.015 | 16,75% |
| 4 | BMRI | Bank Mandiri | 542,96 | 4.030 | 13,47% |
| 5 | UNVR | Unilever Indonesia | 201 | 1.580 | 12,72% |
| 6 | SCMA | Surya Citra Media | 21 | 172 | 12,21% |
| 7 | BJBR | Bank BJB | 85,54 | 750 | 11,41% |
| 8 | BBRI | Bank Rakyat Indonesia | 346 | 3.080 | 11,23% |
| 9 | BJTM | Bank Jatim | 56,62 | 510 | 11,10% |
| 10 | IPCC | Indonesia Kendaraan Terminal | 112,85 | 1.030 | 10,96% |
| 11 | SIDO | Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul | 37 | 346 | 10,69% |
| 12 | ADRO | Alamtri Resources Indonesia | 263,40 | 2.500 | 10,54% |
| 13 | CITA | Cita Mineral Investindo | 351 | 3.350 | 10,48% |
| 14 | TAPG | Triputra Agro Persada | 201 | 1.935 | 10,39% |
| 15 | DLTA | Delta Djakarta | 181 | 1.770 | 10,23% |
| 16 | BBNI | Bank Negara Indonesia | 349,41 | 3.420 | 10,22% |
Rata-rata yield ke-16 saham ini 13,3%, dengan median 11,2%. Sebagai pembanding, BBCA yang sering dianggap saham dividen andalan hanya menghasilkan yield sekitar 6,25% dengan perhitungan yang sama.
Saham Bank: BMRI, BBRI, BBNI, BJBR, BJTM
Lima dari 16 saham di daftar ini adalah bank. Bank Mandiri memimpin kelompoknya dengan yield 13,47% karena membagikan dividen tiga kali dalam periode hitung, termasuk dividen interim tahun buku 2026 sebesar Rp66 per saham.
Bank Rakyat Indonesia membayar Rp137 dan Rp209 per saham, sehingga yield-nya 11,23%, sedangkan BNI membagikan Rp349,41 per saham dengan yield 10,22%.
Dua bank pembangunan daerah, Bank BJB dan Bank Jatim, juga masuk dengan yield di atas 11%. Keduanya dikenal punya rasio pembayaran dividen yang tinggi karena pemegang saham pengendalinya adalah pemerintah daerah.
Bagi investor yang membandingkan dengan deposito, saham bank menarik karena bisnisnya relatif mudah dipahami. Meski begitu, harga saham bank besar ikut tertekan sepanjang 2026, sehingga sebagian yield tinggi ini adalah efek harga yang turun.
Kamu bisa membaca perbandingan lengkapnya di artikel dividen saham vs bunga deposito.
Saham Tambang: PSAB, BSSR, ADRO, CITA
Kelompok tambang menempati dua posisi teratas. J Resources Asia Pasifik membagikan Rp105 dan Rp30 per saham, sementara harga sahamnya hanya Rp515, sehingga yield-nya menembus 26%.
Baramulti Suksessarana mencatat total dividen Rp1.242,29 per saham, termasuk dividen interim Rp406,16 yang dibagikan pada September 2026.
Alamtri Resources Indonesia, yang dulu bernama Adaro Energy Indonesia, membagikan Rp145,14 dan Rp118,26 per saham. Cita Mineral Investindo, produsen bauksit, membayar Rp351 per saham dalam satu kali pembagian.
Dividen emiten tambang sangat bergantung pada harga komoditas. Ketika harga batu bara atau mineral tinggi, laba melonjak dan dividen ikut besar.
Saat siklus berbalik, dividen bisa dipangkas tajam. Karena itu, yield 20% lebih dari saham tambang sebaiknya dianggap sekali dapat, bukan pendapatan rutin yang pasti berulang.
Saham Konsumer dan Sektor Lain
Di luar bank dan tambang, daftar ini cukup beragam. Mitra Pinasthika Mustika dari sektor otomotif membagikan Rp170 per saham dengan yield 16,75%.
Unilever Indonesia membayar Rp87 dan Rp114 per saham sehingga yield-nya 12,72%, angka yang besar untuk ukuran UNVR karena harganya sudah turun jauh dibanding beberapa tahun lalu.
Sido Muncul membagikan dividen dua kali, Rp22 dan Rp15 per saham, dengan yield 10,69%. Delta Djakarta membayar Rp181 per saham, sedangkan Surya Citra Media membagikan Rp9 dan Rp12 per saham dari harga yang hanya Rp172.
Indonesia Kendaraan Terminal, operator terminal kendaraan di Pelabuhan Tanjung Priok, membagikan total Rp112,85 per saham. Triputra Agro Persada dari sektor sawit membayar tiga kali, yaitu Rp50, Rp91, dan Rp60 per saham, sehingga yield-nya 10,39%.
Yield Tinggi Belum Tentu Untung
Yield besar sering menggoda, tetapi ada tiga hal yang perlu dihitung sebelum membeli. Pertama, harga bisa turun lebih dalam dari dividen yang diterima.
Misalnya kamu membeli 32 lot BBRI di harga Rp3.080, atau sekitar Rp9,86 juta. Dengan dividen Rp346 per saham, kamu menerima Rp1.107.200 sebelum pajak.
Namun jika harga turun 10%, nilai sahammu berkurang sekitar Rp985.600, dan hampir seluruh dividen habis tertutup kerugian harga.
Kedua, harga saham biasanya turun pada tanggal ex-dividen kira-kira sebesar dividen yang dibagikan. Untuk berhak atas dividen, kamu harus memiliki saham sampai akhir cum date, dan penyelesaian transaksi di bursa berlangsung T+2.
Membeli tepat sebelum cum date lalu menjual setelah ex-date jarang memberi untung bersih.
Ketiga, pajak. Dividen untuk wajib pajak orang pribadi dalam negeri dikenai PPh final 10%, kecuali diinvestasikan kembali di Indonesia sesuai ketentuan PMK 18/PMK.03/2021.
Penjelasan syaratnya bisa dibaca di laman DJP tentang dividen bebas pajak. Dengan pajak 10%, dividen BBRI pada contoh tadi menjadi Rp996.480.
Perbandingan dengan deposito juga perlu adil. Bunga deposito di bank peserta LPS aman selama sesuai syarat penjaminan, termasuk bunga tidak melebihi tingkat bunga penjaminan 3,75%.
Dividen tidak punya perlindungan seperti itu, dan modal di saham bisa berkurang. Jika kamu baru mulai, panduan cara mulai investasi saham bisa membantu menyiapkan rekening efek dan memahami risiko dasarnya.
Batas Daftar Ini
Daftar ini adalah potret per 2 Oktober 2026, bukan rekomendasi membeli. Ada beberapa hal yang tidak bisa ditangkap oleh angka yield.
Redaksi tidak menilai kesehatan keuangan setiap emiten, prospek laba tahun depan, maupun valuasi sahamnya. Peringkat juga bisa berubah cepat: kenaikan harga 10% saja sudah cukup untuk menggeser beberapa saham keluar dari daftar, dan pengumuman dividen interim baru bisa memasukkan saham lain.
Sebelum memutuskan, cek laporan keuangan dan keterbukaan informasi emiten di situs Bursa Efek Indonesia, lalu pertimbangkan kondisi pasar yang sedang berlangsung, termasuk ulasan IHSG Oktober 2026. Yield tinggi paling bermanfaat jika didukung laba yang stabil, bukan hanya karena harga sahamnya sedang jatuh.
Referensi Artikel:
Sekali.id
Kastakilat.id









