IHSG adalah singkatan dari Indeks Harga Saham Gabungan, yaitu angka yang mengukur kinerja harga semua saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Per penutupan 2 Oktober 2026, IHSG berada di 6.036,89, turun sekitar 30% dari 8.646,94 di akhir 2025.
Angka itu sering muncul di berita, tetapi jarang dijelaskan dari mana asalnya. Artikel ini membahas cara IHSG dihitung, arti naik turunnya, dan apa yang terjadi pada indeks ini sepanjang 2026.
Pengertian IHSG
OJK lewat situs Sikapi Uangmu mendefinisikan IHSG sebagai indeks yang mengukur kinerja harga semua saham di Bursa Efek Indonesia. Di luar negeri, indeks ini dikenal sebagai IDX Composite atau Jakarta Composite Index.
IHSG pertama kali diperkenalkan pada 1 April 1983. Hari dasarnya adalah 10 Agustus 1982 dengan nilai dasar 100, saat itu baru 13 saham yang tercatat di bursa.
Jadi IHSG di 6.036 berarti nilai pasar saham-saham di bursa kini sekitar 60 kali lipat dibanding hari dasar, setelah disesuaikan dengan saham-saham yang masuk dan keluar bursa.
Satu hal yang sering salah dipahami: IHSG bukan saham dan tidak bisa dibeli langsung. Investor yang ingin hasil mirip IHSG biasanya membeli reksa dana indeks atau ETF yang mengikuti indeks tertentu.
Cara Menghitung IHSG
Rumus dasarnya sederhana: IHSG sama dengan nilai pasar seluruh saham hari ini dibagi nilai dasar, lalu dikali 100. Nilai pasar adalah harga tiap saham dikali jumlah sahamnya, lalu dijumlahkan.

Metode ini disebut indeks rata-rata tertimbang nilai pasar. OJK menyebutnya Market Value Weighted Average Index, artinya saham dengan kapitalisasi besar punya pengaruh lebih besar.
Contohnya begini. Kenaikan 5% pada saham bank besar bernilai ratusan triliun rupiah menggeser IHSG jauh lebih banyak daripada kenaikan 25% pada saham kecil bernilai beberapa ratus miliar.
Nilai dasar tidak tetap selamanya. Bursa menyesuaikannya saat ada saham baru tercatat, saham keluar dari bursa, atau aksi korporasi yang mengubah nilai pasar, supaya indeks hanya mencerminkan perubahan harga.
IHSG dihitung sepanjang jam perdagangan bursa pada hari kerja. Angka yang dikutip media biasanya penutupan pukul 16.00 WIB.
Arti IHSG Naik dan Turun
IHSG naik berarti total nilai pasar saham di bursa bertambah dibanding hari sebelumnya. IHSG turun berarti sebaliknya.
IHSG naik tidak berarti semua saham naik. Pada hari IHSG menguat 1%, bisa saja ratusan saham kecil justru melemah, karena kenaikan didorong beberapa saham berkapitalisasi besar.
Investor memakai IHSG sebagai pembanding kinerja. Portofolio yang naik 10% setahun terlihat bagus, tetapi kurang mengesankan bila IHSG naik 20% di periode yang sama.
Selain IHSG, Bursa Efek Indonesia punya indeks lain yang lebih sempit. LQ45 berisi 45 saham likuid, IDX30 berisi 30 saham, dan ada indeks sektoral seperti keuangan atau energi.
Saat IHSG jatuh tajam dalam sehari, bursa punya rem darurat berupa penghentian sementara perdagangan atau trading halt. Menurut aturan BEI yang dikutip media pada Januari 2026, penurunan 8% memicu jeda 30 menit dan penurunan 15% memicu jeda tambahan.
Perjalanan IHSG dari Tahun ke Tahun
Data pasar menunjukkan IHSG ditutup di 5.226,95 pada akhir 2014. Sepuluh tahun kemudian, akhir 2024, angkanya 7.079,90.
Pertumbuhannya tidak lurus. IHSG turun ke 4.593,01 di akhir 2015, melemah lagi ke 5.979,07 di akhir 2020 saat pandemi, lalu naik ke 8.646,94 di akhir 2025.
Bila dihitung dari akhir 2014 sampai akhir 2025, IHSG naik sekitar 65% dalam 11 tahun. Itu setara kurang dari 5% per tahun, belum termasuk dividen yang dibagikan emiten.
Angka ini penting untuk perbandingan. Return saham tidak selalu jauh di atas instrumen lain, dan ada tahun-tahun ketika indeks justru turun, seperti dibahas di artikel deposito vs saham.
IHSG 2026: Rekor Lalu Anjlok
Tahun 2026 dibuka dengan optimisme. IHSG mencetak rekor penutupan 9.134,70 pada 20 Januari 2026.
Delapan hari kemudian, arah berbalik. MSCI, penyusun indeks global yang diikuti banyak dana asing, menyatakan kekhawatiran soal transparansi data kepemilikan dan free float saham Indonesia.
Pada 28 Januari 2026, IHSG sempat turun 8% dan memicu penghentian sementara perdagangan, lalu ditutup melemah 7,35% ke 8.320,56. BEI berjanji memperkuat transparansi, termasuk mempublikasikan data free float setiap bulan.
Tekanan berlanjut sampai pertengahan tahun. IHSG mencapai titik terendah 5.342,14 pada 8 Juni 2026, sekitar 42% di bawah rekornya.
Setelah itu, IHSG sempat pulih ke 6.525,48 di akhir Agustus, lalu melemah lagi ke 6.071,14 di akhir September. Perkembangan terbarunya dibahas di ulasan IHSG Oktober 2026.
Faktor yang Menggerakkan IHSG
Arus dana investor asing adalah salah satu penggerak terbesar. Ketika dana asing keluar dalam jumlah besar, saham-saham berkapitalisasi besar yang banyak dimiliki asing ikut tertekan, dan IHSG turun lebih cepat.
Suku bunga juga berpengaruh. Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di 5,75% pada rapat 22–23 September 2026, dan bunga acuan yang tinggi biasanya membuat sebagian investor memilih instrumen berbunga daripada saham.
Harga komoditas seperti batu bara, nikel, dan minyak sawit menggerakkan saham-saham sektor energi dan perkebunan. Nilai tukar rupiah, laporan keuangan emiten, dan sentimen global ikut menambah atau mengurangi tekanan.
Tidak ada satu faktor yang selalu dominan. Kasus Januari 2026 menunjukkan keputusan lembaga indeks global bisa menggeser IHSG lebih besar daripada data ekonomi dalam negeri.
IHSG untuk Penabung Deposito
Banyak penabung deposito mulai melirik saham saat IHSG turun jauh. Logikanya, harga sedang murah.
Logika itu tidak salah, tetapi tidak lengkap. Indeks yang turun 30% bisa turun lagi sebelum naik, dan tidak ada yang tahu kapan titik terendahnya.
Bedanya dengan deposito cukup jelas. Deposito di bank peserta LPS memberi bunga tetap dan dijamin LPS selama bunganya tidak melebihi 3,75% dan saldo tidak lebih dari Rp2 miliar per nasabah per bank, sedangkan nilai saham bisa naik atau turun setiap hari.
Menurut saya, cara paling masuk akal untuk pemula adalah memisahkan peran. Dana darurat dan dana yang dipakai dalam 1–2 tahun tetap di deposito, sedangkan dana jangka panjang yang siap menanggung penurunan boleh masuk saham.
Langkah awal membuka rekening efek dan memilih saham dibahas di panduan cara mulai investasi saham.
IHSG adalah termometer pasar, bukan ramalan; ia memberi tahu suhu hari ini, tidak memberi tahu cuaca besok.
Referensi Artikel:
Sekali.id
Kastakilat.id











